PIKET

Setelah lama tidak menulis, akhirnya saya putuskan untuk kembali menulis di blog ini. hufftt..

Sebelum dimulai, mari kita senyum dulu..

🙂

Kali ini saya akan menceritakan tentang kebiasaan yang mulai melatih saya dalam menjalani kehidupan..*bahasanya ketinggian*

Kebiasaan itu adalah PIKET. PIKET (ditulis dengan huruf kapital), bukanlah singkatan dari beberapa kata tertentu, melainkan hanya sebuah kata saja. Maknanya mirip dengan “piket” dalam KBBI, namun sengaja saya tulis dengan huruf kapital karena begitu berharganya kebiasaan ini. Kebiasaan yang sudah saya mulai dari 4 tahun yang lalu.

SELAYANG PANDANG

PIKET, merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap penghuni asrama mahasiswa kalimantan timur yang saya tempati. Tak mengenal pandang bulu, semua penghuni asrama, baik yang masih calon anggota maupun yang sudah senior pun mendapatkan tanggung jawab ini. Ini merupakan ciri khas asrama yang saya tempati, tidak ada pandang bulu dalam menyelesaikan kewajiban-kewajiban yang telah disepakati bersama. PIKET ini dilaksanakan tiap hari dan dilaksanakan sepanjang minggu dengan jadwal yang disepakati. Saya ingat sekali waktu itu saya mulai melakukan PIKET di bulan Juli 2007.

Isi PIKET,,,Jrengg…

Nah bagian ini yang cukup seru. PIKET dilakukan setiap hari, antara lain:

Pagi hari

Part 1, Dapur….

  1. Cuci Piring dan gelas (plus panci, wajan, sutil, jaring2, sendok, bla..bla…).
  2. Isi air (gentong buat memasak, kamar mandi, drum wudhu)
  3. Masak air buat air panas *langsung dimasukin ke termos*
  4. Me-lap kompor dan bagian2 dapur yang “berminyak” (ya iyalah dapur pasti kecipratan minyak klo masak)
Part 2, R. Tamu, R.keluarga, dan R.tengah…
  1. Menyapu lantai
  2. Mengepel lantai
  3. Vacuuming karpet
  4. Me-lap meja makan hingga meja santai sampe “cling”
  5. Merapikan posisi sofa, kursi, foto dinding yang miring, gorden, meja komputer, dsb…
Part 3, Halaman Tengah dan Depan asrama…
  1. Ngerapiin sendal sepatu
  2. Nyapu dikit
  3. Ngecek trash bag, klo penuh segera dibuang.

Sore hari

Part 1, Dapur…
  1. Sama kayak yang pagi, tapi gak pake yang nomor 2…

Ekstra

Nah piket ekstra ini adalah piket yang di berikan untuk membersihkan bagian2 khusus asrama, antara lain, Kamar mandi (ada 2 nih), toilet (ada 2 juga nih..), aquarium (cukup 1 aja..), lantai teras kamar mandi.
Nah yang ini dipergilirkan juga tiap minggu untuk ngebersihinnya.
Nah, begitulah sedikit penjelasan tentang PIKET (padahal cukup panjang ya..hehe)
Seperti saya bilang tadi di atas, PIKET ini dipergilirkan. Biasanya sih satu orang dapat jatah 1 kali dalam seminggu. Tapi kadang2 klo lagi sepi, bisa dapat 2 jatah dalam seminggu..huhu…

PESAN

Mungkin melakukan kegiatan seperti itu di atas merupakan kebiasaan yang cukup berat bagi sebagian dari kita. Dengan beban kuliah yang berat (asumsi yg baca tulisan ini mahasiswa,,hehe), dan aktifitas organisasi yang dinamis di kampus, mungkin ada yang beranggapan bahwa hal ini berat dilakukan. Padahal enggak kok, malahan banyak manfaatnya.
Dengan PIKET, saya belajar bagaimana mencuci piring dengan teknik yang baik (ckckck…ada lho..), belajar bagaimana mengepel, belajar bagaimana membersihkan kompor, belajar untuk menghadapi kotoran tanpa merasa jijik, belajar bagaimana memberi suasanya nyaman buat orang lain, belajar bagaimana bertanggungjawab, belajar bagaimana membuat diri ini untuk selalu belajar demi kebaikan bersama.

KRL Depok-Tebet

Siang kemarin, KRL ekonomi jurusan Depok-Tebet yang aku tumpangi penuh sesak oleh warga Jakarta yang akan beraktivitas ke pusat kota. Bau tak sedap, keringat, panas, desak-desakan menjadi suatu hal yang lumrah. Banyak pedagang yang berusaha mencari rezeki di atas gerbong-gerbong sempit ini. “Tisu..tisu..tisu….dua rebu bang….”, teriak seorang pria remaja yang menjajakan tisu di tangannya. “Air dingin..air dingin…air dinginnya bang…”, “salak manis…salak manis..salah pondoh…dua rebu sebungkus, lima rebu dapet tiga bungkus…”, “ Koran…Koran Jakarta, top skor-nya serebuan bang, Koran…koran…majalah…”, terdengar beberapa pedagang lain bersahut-sahutan. Ada pula orang-orang yang lumpuh yang meminta sedekah dari para penumpang, ada yang dangdutan, dan ada juga yang sholawatan.

Aku-pun hanya tetap berpegangan ke penopang di langit-langit gerbong sambil berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk, sambil memperhatikan keamanan dompetku dari copet yang sering beraksi saat ramai.

Setelah beberapa menit menikmati suasana itu, tiba-tiba ada seorang anak kecil menghampiriku, memukul-mukul tanganku lalu perutku. “Om..om..om…minta uang om,,untuk makan, om..om..om..lapar om…dari tadi pagi belum makan…om..om..om…minta makan untuk makan om…om..om….”, berkata anak itu sambil terus memukul-mukul tangan dan perutku. Aku hanya tersenyum kepada anak itu. Lalu kualihkan pandangan ku kembali menyapu kondisi sekitar gerbong. Anak kecil tersebut terus melakukan hal yang sama, berkata dan memukul-mukul perutku.

Setelah setengah menit kemudian anak itu pun pergi meninggalkanku, dan kembali meminta hal yang sama kepada seorang bapak yang sedang berdiri di dekat pintu gerbong.

Lalu ku perhatikan anak kecil itu dari jauh. Kataku dalam hati, “Maaf ya dik, maafkan kk belum bisa memberikan uang yang kamu minta, kk takut ini menjadi kebiasaanmu dan menjadi mental hidupmu.”.

Ya Allah izinkanlah hamba-Mu ini untuk memiliki kesempatan yang lebih besar lagi dan kekuatan untuk mengubah nasib anak-anak seperti mereka.

08.16 am
Minggu, 18 April 2010
Jakarta

Sore itu..

Sore itu, hari selasa, 30 Maret 2010, sekitar pukul 17.45, seperti setiap minggunya, saya baru selesai mengikuti kuliah politik dan tata pemerintahan di labtek VIII. Kuliah dan tugas pada hari itu padat, sehingga saya blum sempat makan siang. Ketika menuruni lantai labtek VIII, tepat di depan musholla saya melihat seorang penjual roti keliling. Langsung saja saya tancap gas untuk mengisi perut saya yang kosong. Sebuah roti daging langsung saya paksa untuk masuk ke kerongkongan (tentu saja setelah membayarnya…). Saat makan roti itulah, saya berkenalan dan berbincang-bincang dengan penjual roti itu.

Pak Dede, itulah nama beliau. Sudah 15 (lima belas) tahun beliau berjualan roti keliling di ITB, yakni sekitar tahun 1995. Perbincangan kami dimulai dengan cerita-cerita ITB tahun 95-an dimana saat itu masih ada lapangan luas di tengah kampus (yang sekarang sudah menjadi zona 4 labtek). Saat itu masih sering terjadi perkelahian antarmahasiswa di lapangan itu.

Perbincangan kami berlanjut mengenai kehidupan pak dede. Beliau bercerita bahwa beliau sekarang tinggal di daerah Kalapa dan memiliki seorang istri dan 4 orang anak perempuan di Subang, namun salah seorang anak beliau telah meninggal karena kanker tulang sekitar 1 tahun yang lalu.

Pada awalnya anak beliau itu memiliki kehidupan yang sama seperti anak-anak sebayanya. Sampai dua tahun yang lalu, anaknya merasakan sakit pada kaki kanannya. Ketika diperiksakan di puskesmas terdekat, dokter hanya mendiagnosis ini hanya sakit biasa dan akan sembuh dengan sendirinya. Beberapa waktu pun berlalu dan ternyata sakitnya bertambah-tambah. Pak Dede-pun membawa anaknya itu ke puskesmas kembali. Maka dilakukan rontgen pada kaki kanannya. Ternyata ditemukan sebuah benjolan asing pada bagian bawah lututnya (dekat tendon otot betis). Pada waktu itu dokter mendiagnosis bahwa benjolan itu hanyalah gumpalan cairan yang akan hilang dengan sendirinya.

Ternyata kesembuhan yang diharapkan tak kunjung datang, malah semakin parah. Pak Dede lalu membawanya ke RSHS Bandung. Setelah diperiksa, ternyata anak beliau telah terkena kanker tulang stadium akhir dan harus dilakukan amputasi untuk menyelamatkan jiwanya. Biaya operasi sangat mahal, mencapai 60 juta rupiah. Jumlah yang sangat besar bagi seorang penjual roti seperti beliau. Akhirnya anak beliau hanya dirawat dirumah saja.

Hari berganti hari, kaki anak beliau membengkak dan terjadi penumpukan darah pada kaki terebut. Pembengkakan itu, kata beliau, pernah pecah tiga kali. Setiap kali pecah, darah mengalir bagaikan air yang mengucur dari keran. Lebih dari 1 liter darah keluar setiap kalinya. Pak Dede selalu menyiapkan baskom untuk menampung darah tersebut. Anaknya selalu pingsan pada dua kali pecahnya pembengkakan itu, namun saat ketiga kalinya, nyawanya tidak dapat tertolong lagi.

Adzan maghrib-pun berkumandang, saatnya pembicaraan kami diakhiri. Saya hanya bisa tersenyum dan berkata kepada beliau untuk bersemangat. Insya Allah apapun cobaan yang terjadi terdapat hikmah yang tersembunyi dibaliknya.

Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur. (Asy-Syuura : 33)

Petroleum Exploration

By Tedy Muslim Haq

Geophysical Engineering, Bandung Institute of Technology

Petroleum is the name for all hydrocarbon related, naturally occurring materials, including oil, natural gas, and tar. It is made up of hydrocarbon molecules (hydrogen combined with carbon). Oil is generally formed in young sedimentary rocks, especially the ones which have not undergone by metamorphic activities. Oil needs heat to be formed, but too much heat will make the oil get driven out.

There are four requirements to form an oil deposit; source rock, trapping mechanism, reservoir rock, and heating. The fluid in the deposit initially is a mixture of oil and water. During a time, because the oil is less dense than water, it separates and goes up to higher position in the reservoir rock. The gas also separates from the oil and takes the highest position available.

Recently, most petroleum resources are contained deep underground, so exploration relies heavily on drilling methods. In support for drilling, there are a variety of geophysical methods, including seismic and gravity.

The duty of petroleum explorer is to find the source rock sediment, reservoir rock sediment, and oil trap. The first method to start the exploration is earth surface mapping and interpreting. From this data, the possible locations of oil deposit can be guessed. The next step for exploration is gravity survey. Gravity surveys are performed to examine bedrock topography under the earth’s surface, map large metallic mineral deposits, and locate subsurface caverns and also contacts between geologic units of differing mass and density. It is a fairly complicated system but it is based on the premise that a target, oil reserve in this case, has a different density from the surrounding geology. Computer models are generated to depict the general area where such gravity changes occur. Once the gravity survey indicates an area where there are density differences, it is time to perform a seismic survey.

When the gravity survey has done and indicates an area that has differences density, seismic survey is performed. The seismic methods are the most widely used of all geophysical methods used in petroleum exploration. The main advantage is that it provides the most accurate rendition of the geometry of subsurface layers. Unfortunately the cost of seismic surveys is much greater than the cost of other types of geophysical surveys. Seismic methods measure seismic velocity of rock layers to detect both lateral and depth variations. The objective is to determine the lithology and geometry of the layers.

A seismic wave can be thought of as shock wave (elastic wave) or vibration traveling through the ground. The rate of travel, or velocity, of the wave is related to the density of the rock. There are two types of elastic waves produced: P-waves, which are primary or compression waves, and S-waves, or shear waves. The procedure used is to lay out a survey line with geophones set at equal spacing along the line. A shock wave is produced at one of the stations by dropping a heavy weight (seismic truck) or detonating an explosion (dynamite) at a shot point. The shot point is the point on the surface directly above the zone of interest. Ground motions caused by the explosion or impact are transmitted in the form of P-waves and S-waves. A seismic timer is used to measure the travel time of the wave from the instant it is generated until the time the wave reflection is detected back at the surface. Times are measured for each of the successive stations along the line. The return waves are measured by sophisticated computers traveling in front of the seismic truck or explosion site. The computer will calculate the timing of the returns and will then be able to draw graphs called, seismographs, of the topography and layers of the crust.

By examining these charts, expertise would be able to identify the traps. By identifying the traps one would be likely to identify an oil reservoir. Many seismographs can be manipulated by the computer to produce 3-D images of the rock formations. Extensive modeling can also be built, all by computer, based on the data that is returned from the seismic waves.

Geologic and geophysical clues are enticing, but drilling is the only way to learn if an oil or gas field really exists. Once a well is drilled, well logs yield data on the types of rock present and what fluids these rocks contain. The information interpreted from the logs is used to decision whether a well should be completed and used to produce oil and gas, or filled with cement and abandoned. The logs are also used to update the geologic models originally used to locate the well.

Petroleum exploration needs a wide earth science discipline such as geological surface mapping, structures, stratigraphy, and geophysical subsurface mapping including gravity, seismic interpretations, and well logging.

PETROLEUM ENGINEERING

Tedy Muslim Haq

16407170

Institut Teknologi Bandung


Petroleum, oil, and gas are hydrocarbons derived from sedimentary rocks which were deposited in productive region with anoxic (low oxygen) bottom waters. Deep burial resulting in high temperature and pressure converted the organic remains into hydrocarbons. Hydrocarbons can be in gas, liquid, and solid form that depends on the pressure and temperature. Oil hydrocarbons formed in temperature between 180oF and 295oF while gas hydrocarbon formed in temperature between 295oF and 450oF. Pressure forces the oil and gas from the source rock into water-filled porous and permeable strata above. Because oil and gas are less dense than water, they migrate upwards until their path blocked by and impermeable layer. Oil and gas accumulate, forming a large deposit within the pores of the rocks.

The rocks that has pores filled with oil or gas and blocked by an impermeable layer above and another impermeable layer or water below is called reservoir. There are three kinds of reservoir trap; they are anticlinal, fault, and stratigraphic trap. Reservoir has porosity that is a ratio between the pores volume and the bulk volume. Beside porosity, permeability also has an important role for reservoir quality. Permeability is quantized in miliDarcy unit. Good reservoir has porosity around 15-25% and 10-1000 miliDarcy.

The total amount of oil or gas in the reservoir at initial condition is called original oil-place or original gas-in place. The total amount of oil or gas that can be covered with current technology and at current economic conditions is called reserve. Proved reserves are the quantities of oil or gas from known reservoir which is proven by drilling and expected to be recoverable with current technology and at current economic conditions. Potential reserves are those that may be recoverable in the future with advanced technologies or under different economic conditions.

How much oil or gas can be recovered from the rock is a function of rock properties, type of reservoir, technology, an economics. There are several ways of oil recovery technique; Oil Expansion (2-5%), Solution Gas Drive (10-30%), Gas Cap Drive (20-50%), Water Drive (25-50%), Gravity Segregation (30-70%) and Gas Expansion (70-95%).

Petroleum engineer must to be an expert about reservoir, drilling, formation evaluation, and production engineering. Reservoir engineering is mapping and estimating the initial size of hydrocarbons. It characterizes, describes, predicts and modeling the reservoir. Drilling engineering learns and develops science and technology in communication hole making from surface to a fixed, good, and safe reservoir depth so that is to be a good oil, gas, and geothermal production facility. Drilling rigs can be different, it depends on the kind of place it is been. There are several drilling rigs; land rig, submersible, jackup, semisubmersible and drillship. One of important things in drilling is mud. Mud is being injected while the drilling is in progress. The mud removes cuttings from well, prevents kicks, makes bore hole stable, cools and lubricates bit and downhole tools. The other important thing in drilling is casing. Casing protects bore hole, separates high/low pressure zones, as the basement for wellhead system, reduces frictions of drill string and ensures well completion. Formation evaluation determines about porous and permeable layers (by logging method), calculates productive layer thickness, analyzes rock petrophysics (porosity and saturation) and studies reservoir correlations. Production engineering determines oil and gas production technique to surface, solves the production problem and plans the surface production facility.

Dasa Wacana

Dasa Wacana yang kita pilih untuk mengembangkan hidup yang lebih baik:

1. Jangan pernah menunda sampai besok apa yang dapat kita kerjakan hari ini.

Kita masih terlalu sering menunda pekerjaan, kita sering berkata “nanti aja ah,,besok masih bisa dikerjain kok..”. Coba refleksikan kembali apa2 yang bisa kita kerjakan saat ini.

2. Jangan merepotkan orang lain dengan apa yang sebenarnya dapat kita kerjakan sendiri.

Mungkin, tanpa kita sadari, kita sering merepotkan orang lain dengan hal2 yang harusnya dapat kita kerjakan sendiri. Coba sadari pada diri kita, bahwa orang lain juga mempunyai banyak hal yang harus dikerjakaanya. Janganlah merepotkannya dengan pekerjaan kita yang harusnya bisa kita kerjakan sendiri.

3. Jangan gunakan uang kita sebelum kita memilikinya.

Jangan membeli sesuatu jika kita tidak yakin kita bisa membayarnya.

4. Jangan beli apa yang tidak kita butuhkan hanya karena harganya murah. Padahal, ia akan menjadi mahal bagi kita.

Jika kita lebih memerhatikan apa yang kita beli, banyak sekali hal-hal yang sebenernya tidak kita perlukan, hal-hal tersebut hanyalah sesuatu yang kita inginkan.
5.Keangkuhan harus dibayar lebih mahal dibanding lapar, haus, dan kedinginan.

Lebih baik lapar dan dahaga daripada membuat orang lain menjauh dari diri kita karena keangkuhan diri.

6. Kita tidak pernah menyesal karena makan terlalu sedikit.

Jangan pernah menyesali apa yang telah kita dapatkan, sesalilah apa yang tidak dapat kita lakukan bagi kebaikan orang lain.

7. Lupakan kesalahan-kesalahan masa lalu dan utamakan prestasi-prestasi lebih besar di masa depan.

Berpikirlah visioner, jangan terkurung dalam hal-hal yang sudah berlalu. Pikirkan apa yang bisa kita lakukan kedepan.

8. Tunjukkan selalu muka berseri-seri dan berikan senyuman kepada seriap makhluk hidup yang kita temui.

Karena keceriaan kita dapat membangun suasana emosi yang positif, bagi siapapapun.

9. Berikan sebanyak mungkin waktu untuk memperbaiki diri sehingga kita tidak punya waktu lagi untuk mengkritik orang lain.

Terus memperbaiki diri, self improvement, jangan cepat puas dengan kondisi sekarang, berpikirlah bahwa seharusnya kita dapat melakukan hal yang lebih baik.

10. Jadilah yang terlalu besar untuk merasa khawatir, terlalu hormat untuk marah-marah, terlalu kuat untuk takut, dan terlalu bahagia untuk membiarkan kekacauan.

Selalu berpikir positif dalam setiap kesempatan. Berpikirlah besar, maka kita akan merasa cukup mampu untuk melaksanakan pekerjaan/amanah yang berat sekalipun.

(Thomas Jefferson & Tedy Muslim Haq)

Setiap diri kita adalah BESAR, tapi itu tergantung dari cara kita memandang diri kita sendiri…..

Kembali lagi ke bandung…

Whaah, gak terasa 2 minggu telah berlalu begitu cepat di kota balikpapan. Tadi pagi berangkat dari balikpapan pkl 12.45 wita. Alhamdulillah sampai di cengkareng sekitar pkl 13.35 wib. Yah ditambah ngurus2 bagasi, aku baru keluar gedung bandara jam 2-an gitu.

Trus dengan semangat mencari loket bus primajasa untuk pergi ke bandung ( ya iya lah, secara khan aku kuliah di sana…). Dari terminal 1C bandara aku bergegas menuju terminal 1A (karena seingatku loket primajasa ada di sana). Dengan wajah cool, ransel dan menyeret tas “eliminasinya AFI”, aku melangkah ke terminal 1A……

Setelah sampai di terminal 1A ada hal yang aneh…..tak ada loket bus primajasa!!!!… waaa….

Aku jadi bingung sendirian, duh bisa di bayangin khan jalan kaki sambil bawa barang berat2 dari terminal 1C ke 1A…huuhhh…menyedihkan…

Untungnya aku bisa nenangin diri, lalu berjalan dengan tetep cool mencari2 loket bus primajasa, mungkin saja “keselip” di sekitar terminal 1A ini…mencari….mencarii…mencariiii….ternyata tetep gak ada!!!..15 menit kemudian aku nyerah…

Duh, gimana nih, akhirnya kugunakan jurus terakhir…bertanya ama petugas di terminal 1A. Karena suasana yang ribut, aku gak mendengar kata2 petugas itu, jadi cuman ngikutin arah “jari telunjuknya” aja yang mengarah ke terminal 1 C…waduh,,,

Yah dengan rasa percaya diri yang kembali menggebu (karena dah “merasa” tau loket primajasa), aku pun kembali menuju ke terminal 1C…..Setelah sampe di terminal keberangkatan 1C, aku mulai mencari2 loket primajasa….dan tidak ada juga..!!!!! waaahhh, aku jadi bingung lagi…tapi aku inget bahwa masih ada terminal kedatangan 1C, lalu aku bergegas ke sana…dan ternyata gak ada juga…!!!! Sempet terlintas di pikiranku primajasa udah bangkrut….huhu”

Dengan hati dan pikiran serta perasaan yang memuncak (kebingungan stadium parah…), akhirnya kutanya lagi sama petugas trolly di terminal 1C…

Lalu dia menunjukkan loket primajasa yang ternyata ada di sebelah Restoran A&W di terminal 1B,,,aduhh…terpaksa aku jalan lagi ke terminal tsb… dan akhirnya, dengan wajah yang lesu dan kelelahan (bayangin aja, bolak balik dari terminal 1C-1A-1C, trus ke 1B lagi…huhhh) , aku beli tiket primajasa yang jam setngh 4 sore… Kasihan sekali nasibmu ted….

Tapi alhamdulillah sekarang cobaaan itu dah selesai…

Sekarang aku udah kembali lagi ke bandung. Akan kembali beraktivitas dengan teman2….

Kadang aku ngerasa gak enak telah ninggalin tmen2 yang di bandung. Maap ya temen2, temenmu ini akan segera kembali lagi untuk berjuang di kampus gajah duduk tercinta ini…

Ok…bye

tedylight

insan yang berusaha menjadi cahaya untuk sekelilingnya

23.02 pm.warnet dekat asrama.

Bandung, 22 Juli 2008

Dan hujanpun menari..

Hujan itu menari
Menarikan lagu-lagu yang indah
Pohon, rumput, dan hewan, riang menyambutnya
Hujan itu penuh makna
Membasahi hati yang telah kering
Membuat yang layu menjadi berseri kembali
Gemericiknya menentramkan hati
Membawa kedamaian

Di tengah kesepian
Diriku hanya bisa tersenyum melihat tarian hujan itu
Walaupun hujan hanyalah air
Tapi air itu bukan sekedar air
Air itu adalah kasih, air itu adalah perwujudan cinta-Nya
Namun, hanya sedikit dari kita yang menyadarinya

Apakah kita sudah pernah bertanya pada diri kita?
Diri kita terlalu sibuk, egois….

Wahai sahabat, cobalah satu kali saja kita perhatikan hujan
Maknailah kehadirannya
Agar tercapai kedamaian hati….

Tedy Muslim Haq
Bandung, 28 Juni 2008
Dibawah naungan hujan, selasar comlabs ITB, pkl 15.14 menjelang ashar

Malam

Di tengah langit malam
Kutatap dunia di atasku
Bulan tersenyum dengan manisnya
Memancarkan cahaya yang menyejukkan hati
Bagai rona yang diselimuti kasih dan damai

Sang bintang pun tak mau kalah
Dengan anggun melepas cahayanya untuk menerangiku
Cahaya-cahaya kecil yang melindungiku dari kejauhan
Menerangi wajahku yang kusam ini

Aku kagum melihat itu semua
Melihat bulan dan bintang yang ikhlas
Ikhlas memberikan cahayanya untuk menerangi seluruh makhluk
Tanpa pamrih

Aku tiba-tiba menangis
Melihat diriku…..
Diriku yang blum mampu menyebarkan cahaya seperti mereka
Aku…..Aku….Aku….

Tedy Muslim Haq
Bandung, 3 November 2007

Tentang diriku….

Nama lengkapku Tedy Muslim Haq. Aku dilahirkan di Balikpapan, tanggal 9 Desember 1988.
Lahir sebagai anak terakhir dari 3 bersaudara. Kakakku yang pertama bernama Fauzan Rahman Haq, dan kakakku yang kedua bernama Zakir Abdi Haq.
Dilahirkan dari kedua orangtua yang sangat aku banggakan, ayahku, Fajar Shodiq Haq, yang sungguh menyayangi diriku, dan ibundaku, Nurganiah, yang sangat gigih perjuangannya membesarkanku dan saudara-saudaraku.

Aku lahir di RS. Pertamina Balikpapan. Masa2 kecilku kulalui dengan hidup yang sederhana. Kehidupan anak-anak yang sungguh jauh dari kemewahan. Dalam masa-masa kecil ini, diriku selalu merasa iri melihat teman-teman sebayaku mendapatkan mainan yang diinginkannya. Sedangkan aku jarang sekali mendapatkannya, karena kondisi keuangan kami yang terbatas.

Sejak tahun 1984, keluarga kami tinggal di daerah yang bernama “Karang Rejo”.
Karena melihat lingkungan yang tidak baik untuk perkembangan anak-anaknya, orangtuaku memutuskan untuk memindahkan kami ke rumah yang lain, tentunya dengan lingkungan yang lebih baik. Lalu pada tahun 1994 kami pindah ke Pondok Karya Agung.

Saat umurku 6 tahun, ibunda hendak memasukkan aku ke Sekolah Dasar, namun hal itu tidak terwujud karena tiba-tiba ayah sakit dan harus berobat ke Jakarta.
Tahun berikutnya, barulah aku menginjakkan kakiku di Sekolah Dasar, sekolah itu bernama SD Negeri 062 Balikpapan Selatan. Sungguh merupakan hal yang menyenangkan bisa bersekolah. Aku ingat sekali, pada waktu itu, aku hanya diberi uang saku dua ratus rupiah setiap hari. Sungguh jumlah yang sangat jauh sekali dibandingkan dengan uang saku anak SD saat ini.

Tahun-tahun awal pendidikan SD-ku tidak begitu baik. Di kelas 1 aku hanya menduduki peringkat ke-7 di kelas. Namun kondisi itu berubah sejak aku memasuki bangku kelas 2, aku berhasil meraih peringkat yang lumayan tinggi, peringkat ke-2 di kelas.
Entah mengapa, saat di kelas tiga, mata pelajaran begitu mudah aku tangkap di otakku, Alhamdulillah, aku meraih peringkat pertama di kelas. Prestasi ini berhasil aku pertahankan hingga lulus SD. Terimakasih ya Allah…

Tingkat SMP aku lanjutkan di SMP Negeri 10 Balikpapan. Sekolah ini terkenal dengan siswa-siswanya yang nakal dan suka berkelahi. Alhamdulillah aku tidak terpengaruh dengan “kondisi” ini. Aku terus berjuang meraih masa depanku. Saat inilah aku mendapatkan amanah terbesar pertamaku di lingkungan sekolah, yakni terpilih menjadi Ketua OSIS.

Dengan nilai UAN yang cukup, akhirnya aku dapat diterima di salah satu SMA favorit di Kalimantan Timur, SMA Negeri 1 Balikpapan.

To be continued……..