Sore itu, hari selasa, 30 Maret 2010, sekitar pukul 17.45, seperti setiap minggunya, saya baru selesai mengikuti kuliah politik dan tata pemerintahan di labtek VIII. Kuliah dan tugas pada hari itu padat, sehingga saya blum sempat makan siang. Ketika menuruni lantai labtek VIII, tepat di depan musholla saya melihat seorang penjual roti keliling. Langsung saja saya tancap gas untuk mengisi perut saya yang kosong. Sebuah roti daging langsung saya paksa untuk masuk ke kerongkongan (tentu saja setelah membayarnya…). Saat makan roti itulah, saya berkenalan dan berbincang-bincang dengan penjual roti itu.
Pak Dede, itulah nama beliau. Sudah 15 (lima belas) tahun beliau berjualan roti keliling di ITB, yakni sekitar tahun 1995. Perbincangan kami dimulai dengan cerita-cerita ITB tahun 95-an dimana saat itu masih ada lapangan luas di tengah kampus (yang sekarang sudah menjadi zona 4 labtek). Saat itu masih sering terjadi perkelahian antarmahasiswa di lapangan itu.
Perbincangan kami berlanjut mengenai kehidupan pak dede. Beliau bercerita bahwa beliau sekarang tinggal di daerah Kalapa dan memiliki seorang istri dan 4 orang anak perempuan di Subang, namun salah seorang anak beliau telah meninggal karena kanker tulang sekitar 1 tahun yang lalu.
Pada awalnya anak beliau itu memiliki kehidupan yang sama seperti anak-anak sebayanya. Sampai dua tahun yang lalu, anaknya merasakan sakit pada kaki kanannya. Ketika diperiksakan di puskesmas terdekat, dokter hanya mendiagnosis ini hanya sakit biasa dan akan sembuh dengan sendirinya. Beberapa waktu pun berlalu dan ternyata sakitnya bertambah-tambah. Pak Dede-pun membawa anaknya itu ke puskesmas kembali. Maka dilakukan rontgen pada kaki kanannya. Ternyata ditemukan sebuah benjolan asing pada bagian bawah lututnya (dekat tendon otot betis). Pada waktu itu dokter mendiagnosis bahwa benjolan itu hanyalah gumpalan cairan yang akan hilang dengan sendirinya.
Ternyata kesembuhan yang diharapkan tak kunjung datang, malah semakin parah. Pak Dede lalu membawanya ke RSHS Bandung. Setelah diperiksa, ternyata anak beliau telah terkena kanker tulang stadium akhir dan harus dilakukan amputasi untuk menyelamatkan jiwanya. Biaya operasi sangat mahal, mencapai 60 juta rupiah. Jumlah yang sangat besar bagi seorang penjual roti seperti beliau. Akhirnya anak beliau hanya dirawat dirumah saja.
Hari berganti hari, kaki anak beliau membengkak dan terjadi penumpukan darah pada kaki terebut. Pembengkakan itu, kata beliau, pernah pecah tiga kali. Setiap kali pecah, darah mengalir bagaikan air yang mengucur dari keran. Lebih dari 1 liter darah keluar setiap kalinya. Pak Dede selalu menyiapkan baskom untuk menampung darah tersebut. Anaknya selalu pingsan pada dua kali pecahnya pembengkakan itu, namun saat ketiga kalinya, nyawanya tidak dapat tertolong lagi.
Adzan maghrib-pun berkumandang, saatnya pembicaraan kami diakhiri. Saya hanya bisa tersenyum dan berkata kepada beliau untuk bersemangat. Insya Allah apapun cobaan yang terjadi terdapat hikmah yang tersembunyi dibaliknya.
Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur. (Asy-Syuura : 33)
